BHPMN, Keharusan atau Kewajiban?

Publikasi: PIkiran Rakyat, 29 Juli 2006
Judul: BHPMN, Keharusan atau Kewajiban?
Penulis: Asep Mulyana. (Dosen Fakultas Ekonomi Unpad.)

Adalah ketidakadilan jika masyarakat mempunyai pendapat bahwa perguruan tinggi swasta atau asing di Indonesia boleh memberikan tarif yang tinggi dengan harapan kualitas yang lebih baik. Namun ketika perguruan tinggi mencoba beralih menjadi BHPMN guna meningkatkan kualitas yang sudah ada, maka terbersitlah anggapan status ini menjadi sebuah momok bagi masyarakat, yang belum tentu menjadi kenyataan. Padahal, dengan status BHPMN (Badan Hukum Pendidikan Milik Negara), maka perguruan tinggi negeri tentunya tidak akan melupakan amanat yang sudah melekat didalamnya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan, dengan perubahan status ini perguruan tinggi diharapkan akan mampu bersaing dengan perguruan tinggi swasta bahkan asing, dengan kebijakan penetapan biaya pendidikan disesuaikan dengan strata penghasilan orang tua mahasiswa.

Apa yang Salah pada Madrasah?

Publikasi: Pikiran Rakyat, 21 Juli 2006
Judul: Peminat Kecil, Apa yang Salah pada Madrasah?
Penulis: MIMAN HILMANSYAH MISHBAH, S.Pd. (Guru Madrasah Aliyah Negeri Jonggol, Kabupaten Bogor.)

Agak menyedihkan memang ketika kita melihat bahwa sampai saat ini animo sebagian masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasah masih sangat kecil. Hal ini setidak-tidaknya terlihat dari proses rekrutmen siswa baru yang memperoleh jumlah siswa yang tidak terlalu menggembirakan.

Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa produk SDM yang dihasilkan madrasah serba tanggung, tidak mampu menguasai ilmu-ilmu umum dan tidak pula pandai dalam ilmu-ilmu keagamaan. Anggapan ini tidaklah terlalu salah, namun jika kita cukup bijak tampaknya hal-hal berikut dapat dijadikan beberapa pertimbangan.

Prestasi Akademik Tergantung Besaran Sumbangan?

Publikasi: Pikiran Rakyat, 17 Juli 2006
Judul: Prestasi Akademik Tergantung Besaran Sumbangan?
Penulis: Huminca/”PR”

SEKOLAH-sekolah favorit sering dikaitkan dengan jumlah APBS yang besar, meski hal ini tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, masih ada faktor lain yang menyebabkan lulusan sekolah-sekolah favorit lebih baik dibandingkan dengan sekolah lainnya. Sekjen Forum Aspirasi Guru Indonesia (FAGI) Iwan Hermawan mengatakan, APBS besar bukan menjadi faktor tunggal yang menjelaskan keberhasilan sejumlah sekolah favorit dalam mencetak sejumlah lulusan berprestasi.

Faktor lainnya, kata Iwan, adalah input dari sekolah-sekolah favorit. Selama ini, para pendaftar ke sekolah-sekolah tersebut sudah memiliki prestasi akademik yang bagus. “Ini bisa dilihat dari jumlah NKU (nilai kumulatif ujian-red.) mereka. Bahkan banyak siswa yang NKU-nya berada di atas passing grade yang telah ditentukan di sekolah-sekolah favorit,” kata Iwan.

Cerita dari USA: Pendidikan Memperbanyak Kesempatan untuk Sukses

Publikasi: Suara Hati Seorang Perempuan, 15 Mei 2006
Judul: Cerita dari USA: Pendidikan Memperbanyak Kesempatan untuk Sukses
Penulis: Najlah Naqiyah (Mahasiswi S3 Bimbingan & Konseling, Universitas Malang. — Peserta CLP (Community Leadership Program) di Chicago, utusan dari pondok pesantren Syekh Abdul Qodir al-jailani Kraksaan Probolinggo)

Ada tiga sekolah swasta di Chicago yang terkenal. Ketiga sekolah tersebut adalah sekolah Latin, sekolah Cristo Rey dan sekolah Universal. Ketiga sekolah ini memiliki ciri khusus yang berbeda antara satu dengan yang lain. Sekolah swasta di Amerika dituntut kualitasnya lebih baik dari sekolah umum. Karena sekolah swasta memungut biaya dari siswanya, sedangkan sekolah umum dibiayai oleh negara bagian. Alasan sederhana itulah yang menyebabkan sekolah swasta terus berusaha membuat sekolah berkualitas dengan lebih baik. Lalu apa di balik sekolah swasta tersebut?

Apakah pendidikan berkualitas menjamin adanya hidup yang sukses di masa depan? belum tentu, ukuran sukses seseorang sangat subjektif, ukuran tersebut berbagai maacam, misalnya, ukuran menjadi manusia yang bisa berfungsi secara penuh (the best person) sebagai ukuran sukses seseorang, tentu akan berbeda dengan ukuran sukses yang dihitung dari kekayaan. Apa sesungguhnya yang dicari oleh manusia adalah adanya kesempatan (opportunity). Pendidikan memperbanyak kesempatan untuk “sukses”.

Sekolah Rakyat: Sekolah Swadaya Berkualitas

Publikasi: harry.sufehmi.com, 26 April 2006
Judul: Sekolah Swadaya – diskusi dengan penyelenggara sekolah gratis
Penulis: Harry Sufehmi

Keypoints:

Ijazah: Sama dengan seperti yang bersekolah biasa, dan diakui oleh Diknas.
Raport: Sama dengan seperti yang bersekolah biasa, dan diakui oleh Diknas.
Lokasi: Bisa di mana saja, tidak perlu mengeluarkan biaya. Ada yang di mesjid, teras rumah, aula pertemuan, dst.
Materi pelajaran: Diberikan gratis oleh Diknas & Sekolah Rakyat. Pengajar cukup bisa berkonsentrasi mengajar.
Pengajar: Relawan yang tidak dibayar. Mungkin bisa diganti dengan para ibu-ibu dari anak-anak tersebut sendiri, berganti-gantian sehingga tidak merepotkan.
Seragam: Tentu saja jadi bebas dari seragam :-)
Waktu belajar: Bebas, sesuai kesepakatan antara pengajar dengan anak didik.
Ringkasan cara pendirian: Cari lokasi, cari pengajar, kontak Yayasan Sekolah Rakyat (untuk dukungan teknis dan materi pelajaran), cari anak didik (minimal 15 orang), cari SMP negeri yang akan menjadi induk – mulai berjalan.
Tingkat pendidikan: Sepertinya pada saat ini baru ada dukungan untuk SMP terbuka. (belum ada untuk SD/SMU ?)

Taut Utama: Yayasan Sekolah Rakyat