Wajah Pendidikan Indonesia

Menanti Senyuman di Raut Kusam

Kurikulum 2006 Pangkas 100-200 Jam Pelajaran

March 8th, 2006 · 18 Comments
Rujukan




Publikasi: Pikiran Rakyat, 8 Mare 2006
Judul: Kurikulum 2006 Pangkas 100-200 Jam Pelajaran
Penulis: -

Fasli mengatakan, kurikulum baru tetap memberi tekanan pada pengembangan kompetensi siswa. ”Kurikulum ini sebagai penegas KBK,” ujar Fasli. Menurut Fasli, kurikulum 1994 tidak menekankan pengembangan kompetensi siswa, tapi lebih pada apa yang harus dilakukan guru, sehingga kompetensi siswa tidak dapat tergali.

Kurikulum 2006 tidak akan melalui uji publik maupun uji coba, karena kurikulum ini telah diuji coba melalui KBK yang diterapkan ke beberapa sekolah yang menjadi pilot project. ”Sebenarnya kurikulum 2004, kan, tidak resmi, hanya uji coba yang diterapkan di sekira 3.000 sekolah se-Indonesia,” ujarnya.

Create a free edublog to get your own comment avatar (and more!)

18 responses so far ↓

  • 1    Idham Azwar // Apr 26, 2006 at 20:02:15

    Tolong rumuskan dulu secara matang jangan seperti KBK yang ibarat buah dimana kami di daerah terpencil hanya dapat kulit bukan isinya

  • 2    koswara // Jun 2, 2006 at 09:22:54

    mohon dikirim informasi dan silabus kurikulum 2006

  • 3    Agustinus marjito // Jun 10, 2006 at 21:02:32

    mohon dikirim model kurikulum 2006 agar sekolah dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam menyambut kurikulum baru itu.

  • 4    getsuyobi // Jun 15, 2006 at 04:55:12

    tolong dikirim silabus kurikulum 2006

  • 5    musardas // Jun 19, 2006 at 17:21:23

    Inilah bukti bahwa Mr. Bambang Sudibyo tidak punya visi yang jelas tentang dunia pendidikan Indonesia. Dalam benak beliau dan kawan-kawan pergantian kurikulum bisa seenaknya seperti merubah rasa masakan. Tuan-tuan petinggi tidak pernah tahu dan berpikir bagaimana kondisi sebenarnya pendidikan di Indonesia, di mana fasilitas yang serba kekurangan, akses yang sangat sulit, birokatis, guru-guru didominasi oleh manusia-manusia yang sudah jenuh bekerja, kesejahteraabn guru minus, manajemen “toko kelontong”, siswa tertekan dan tidak termotivasi. Menurut hemat saya, bukan kurikulum yang mesti diutak-atik, tetapi perbaikan semua kelemahan-kelemahan di atas jauh lebih penting.

  • 6    Berta Sumartini Herawati, SSi // Jun 20, 2006 at 21:01:02

    Tolong kirim ke kami silabus, sistim penilaian dan perangkat kurikulum 2006

  • 7    Kartika Dewi // Jun 21, 2006 at 10:34:46

    Kami memerlukan segera perangkat kurikulum 2006 beserta sistem penilaiannya.

  • 8    dasma // Jun 21, 2006 at 14:13:47

    tolong kirimkan semua hal tentang kurikulum 2006.
    makasih

  • 9    iin_endrayani // Jun 22, 2006 at 19:21:16

    Tolong dikirimi secara rinci tentang Kurikulum 2006 terutama untuk SMK dan kalo ada modul sekalian
    Terimakasih

  • 10    arief // Jun 26, 2006 at 08:39:13

    tolong kami dikirimi kurikulum revisi untuk sma. trim’s

  • 11    ozy // Jun 26, 2006 at 16:07:50

    inilah bukti ketidak seriusan pemerintahterhadap kondisi pendidikan indonesia, dan bahkan pemerintah lebih mementingkan kepentingan kriditor asing yang memasuki dunia pendidikan kita. harap kepada semua alpisan masyarakat agar respek dan peka dalammenyikapi perubahan kurikulumini,jangan-jangan ada grend proyek yang sdang digarap oleh pemerintah bersama negara asing.

  • 12    tri // Jun 29, 2006 at 11:25:18

    bisa dapatkan kurikulum ini secara lengkap untuk semua jenjang?
    mks

  • 13    dedi dwitagama // Jul 3, 2006 at 20:09:10

    Berharap agar konsepnya makin baik dan lebih mencerdaskan anak bangsa

  • 14    WH Rahmanto // Jul 8, 2006 at 11:33:14

    Meski kita tak perlu pobi terhadap perubahan (yang menuju penyempurnaan tentunya), namun manuver-manuver tajam terhadap kurikulum membuat pengelola pendidikan dan (apalagi) para guru tersengal-sengal. Yang terpenting bukan kurikulum semata, melainkan perbaikan kualitas guru dan situasi belajar di sekolah. Berikan fasilitasi peningkatan kualitas guru, misal dengan selalu menyelenggarakan workshop (asalkan guru tak dibebani biaya). Semua orang tahu, guru itu miskin. Kalau dipacu dengan kecepatan tinggi dengan manuver-manuver kurikulum yang tajam, siapa takkan ngap-ngapan?

  • 15    WH Rahmanto // Jul 8, 2006 at 11:44:10

    Menurut kacamata saya (yang belum tentu valid), materi pembelajaran siswa TK – SMA/yg sederajad terlalu banyak, sarat dengan tuntutan kognitif. Hemat saya, isi bisa dikurangi, sementara setting pembelajaran memberikan ruang gerak bagi siswa untuk mengembangkan cakrawala pemikirannya. Perlu 2 buku: Buku Paket Pembelajaran yang harus dipegang siswa dan guru (lagi-lagi jangan membebani siswa dengan biaya) dan buku referensi (yang isinya sangat lengkap) yang ready-stock dan ready-for-read di Perpustakaan Sekolah. Asalkan disusun dengan baik, buku tak kan ketinggalan zaman selama 5 tahun. Tak setiap tahun ganti, sehingga pengadaan buku tidak mahal dan memboroskan biaya. Tepiskan bujukan (berbau bisinis) dari penerbit, yang isinya belum tentu baik, bahkan tak jarang salah. Lebih ekonomis lagi, bila buku ditulis guru berdasarkan rambu-rambu, tak diperjual-belikan, menambah point bagi guru untuk meningkatkan prestasi dan naik pangkat secara reguler. Gurulah yang tahu persis kemampuan siswa-siswanya dan bagaimana cara meningkatkan kemampuan mereka.

  • 16    Rina // Jul 15, 2006 at 09:02:51

    Ntah apa lagi rencana pemerintah untuk menggonjang-ganjing kurikulum, tolong jangan buat orang awam lebih bingung lagi.

  • 17    Ary Arman Syah // Jul 17, 2006 at 15:54:53

    Tu…khan akhirnya kita hanya terjebak dengan “den kurikulum” yang ujung-ujungnya kita hanya cari silabus, perangkat dan yang lainnya. Setelah dibaca bingung menerapkannya karena sekolahnya dipelosok :-)
    Sekali-kali cari gampangnya aja kenapa sih…
    Materinya ini, standar penilaiannya gini, caranya …..terserah bapak-ibu guru.
    Masyarakatnya majemuk, kok dipaksa harus homogen, piye to…

  • 18    Ali Wajadi, S.Ag // Jul 20, 2006 at 10:52:46

    Mohon kalo udah ada Kurikulum 2006 PAI SMK segera kirimkan ke email saya ya Bozz..thanks yah!?!