<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Wajah Pendidikan Indonesia &#187; Rujukan</title>
	<atom:link href="http://id.edublogs.org/category/rujukan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://id.edublogs.org</link>
	<description>Menanti Senyuman di Raut Kusam</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Feb 2007 08:35:52 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>BHPMN, Keharusan atau Kewajiban?</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/07/29/bhpmn-keharusan-atau-kewajiban/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/07/29/bhpmn-keharusan-atau-kewajiban/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jul 2006 02:53:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/07/29/bhpmn-keharusan-atau-kewajiban/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: PIkiran Rakyat, 29 Juli 2006
Judul: BHPMN, Keharusan atau Kewajiban?
Penulis: Asep Mulyana. (Dosen Fakultas Ekonomi Unpad.)

Adalah ketidakadilan jika masyarakat mempunyai pendapat bahwa perguruan tinggi swasta atau asing di Indonesia boleh memberikan tarif yang tinggi dengan harapan kualitas yang lebih baik. Namun ketika perguruan tinggi mencoba beralih menjadi BHPMN guna meningkatkan kualitas yang sudah ada, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Publikasi: PIkiran Rakyat, 29 Juli 2006<br />
Judul: <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/29/1101.htm">BHPMN, Keharusan atau Kewajiban?</a><br />
Penulis: Asep Mulyana. (Dosen Fakultas Ekonomi Unpad.)<br />
<!--adsense#002--></p>
<blockquote><p>Adalah ketidakadilan jika masyarakat mempunyai pendapat bahwa perguruan tinggi swasta atau asing di Indonesia boleh memberikan tarif yang tinggi dengan harapan kualitas yang lebih baik. Namun ketika perguruan tinggi mencoba beralih menjadi BHPMN guna meningkatkan kualitas yang sudah ada, maka terbersitlah anggapan status ini menjadi sebuah momok bagi masyarakat, yang belum tentu menjadi kenyataan. Padahal, dengan status BHPMN (Badan Hukum Pendidikan Milik Negara), maka perguruan tinggi negeri tentunya tidak akan melupakan amanat yang sudah melekat didalamnya dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan, dengan perubahan status ini perguruan tinggi diharapkan akan mampu bersaing dengan perguruan tinggi swasta bahkan asing, dengan kebijakan penetapan biaya pendidikan disesuaikan dengan strata penghasilan orang tua mahasiswa.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/07/29/bhpmn-keharusan-atau-kewajiban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang Salah pada Madrasah?</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/07/21/apa-yang-salah-pada-madrasah/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/07/21/apa-yang-salah-pada-madrasah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jul 2006 07:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/07/21/apa-yang-salah-pada-madrasah/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: Pikiran Rakyat, 21 Juli 2006
Judul: Peminat Kecil, Apa yang Salah pada Madrasah?
Penulis: MIMAN HILMANSYAH MISHBAH, S.Pd. (Guru Madrasah Aliyah Negeri Jonggol, Kabupaten Bogor.)
Agak menyedihkan memang ketika kita melihat bahwa sampai saat ini animo sebagian masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasah masih sangat kecil. Hal ini setidak-tidaknya terlihat dari proses rekrutmen siswa baru yang memperoleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Publikasi: Pikiran Rakyat, 21 Juli 2006<br />
Judul: <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/21/99forumguru.htm">Peminat Kecil, Apa yang Salah pada Madrasah?</a><br />
Penulis: MIMAN HILMANSYAH MISHBAH, S.Pd. (Guru Madrasah Aliyah Negeri Jonggol, Kabupaten Bogor.)</p>
<blockquote><p>Agak menyedihkan memang ketika kita melihat bahwa sampai saat ini animo sebagian masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasah masih sangat kecil. Hal ini setidak-tidaknya terlihat dari proses rekrutmen siswa baru yang memperoleh jumlah siswa yang tidak terlalu menggembirakan.   </p>
<p>&#8230;</p>
<p>Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa produk SDM yang dihasilkan madrasah serba tanggung, tidak mampu menguasai ilmu-ilmu umum dan tidak pula pandai dalam ilmu-ilmu keagamaan. Anggapan ini tidaklah terlalu salah, namun jika kita cukup bijak tampaknya hal-hal berikut dapat dijadikan beberapa pertimbangan.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/07/21/apa-yang-salah-pada-madrasah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prestasi Akademik Tergantung Besaran Sumbangan?</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/07/17/prestasi-akademik-tergantung-besaran-sumbangan/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/07/17/prestasi-akademik-tergantung-besaran-sumbangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jul 2006 05:03:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/07/17/prestasi-akademik-tergantung-besaran-sumbangan/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: Pikiran Rakyat, 17 Juli 2006
Judul: Prestasi Akademik Tergantung Besaran Sumbangan?
Penulis: Huminca/&#8221;PR&#8221;
SEKOLAH-sekolah favorit sering dikaitkan dengan jumlah APBS yang besar, meski hal ini tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, masih ada faktor lain yang menyebabkan lulusan sekolah-sekolah favorit lebih baik dibandingkan dengan sekolah lainnya. Sekjen Forum Aspirasi Guru Indonesia (FAGI) Iwan Hermawan mengatakan, APBS besar bukan menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Publikasi: Pikiran Rakyat, 17 Juli 2006<br />
Judul: <a href="http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/072006/17/09features01.htm">Prestasi Akademik Tergantung Besaran Sumbangan?</a><br />
Penulis: Huminca/&#8221;PR&#8221;</p>
<blockquote><p>SEKOLAH-sekolah favorit sering dikaitkan dengan jumlah APBS yang besar, meski hal ini tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, masih ada faktor lain yang menyebabkan lulusan sekolah-sekolah favorit lebih baik dibandingkan dengan sekolah lainnya. Sekjen Forum Aspirasi Guru Indonesia (FAGI) Iwan Hermawan mengatakan, APBS besar bukan menjadi faktor tunggal yang menjelaskan keberhasilan sejumlah sekolah favorit dalam mencetak sejumlah lulusan berprestasi.</p>
<p>Faktor lainnya, kata Iwan, adalah input dari sekolah-sekolah favorit. Selama ini, para pendaftar ke sekolah-sekolah tersebut sudah memiliki prestasi akademik yang bagus. &#8220;Ini bisa dilihat dari jumlah NKU (nilai kumulatif ujian-red.) mereka. Bahkan banyak siswa yang NKU-nya berada di atas passing grade yang telah ditentukan di sekolah-sekolah favorit,&#8221; kata Iwan.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/07/17/prestasi-akademik-tergantung-besaran-sumbangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita dari USA: Pendidikan Memperbanyak Kesempatan untuk Sukses</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/06/21/cerita-dari-usa-pendidikan-memperbanyak-kesempatan-untuk-sukses/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/06/21/cerita-dari-usa-pendidikan-memperbanyak-kesempatan-untuk-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jun 2006 09:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/06/21/cerita-dari-usa-pendidikan-memperbanyak-kesempatan-untuk-sukses/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: Suara Hati Seorang Perempuan, 15 Mei 2006
Judul: Cerita dari USA: Pendidikan Memperbanyak Kesempatan untuk Sukses
Penulis: Najlah Naqiyah (Mahasiswi S3 Bimbingan &#38; Konseling, Universitas Malang. &#8212; Peserta CLP (Community Leadership Program) di Chicago, utusan dari pondok pesantren Syekh Abdul Qodir al-jailani Kraksaan Probolinggo)

Ada tiga sekolah swasta di Chicago yang terkenal. Ketiga sekolah tersebut adalah sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Publikasi: Suara Hati Seorang Perempuan, 15 Mei 2006<br />
Judul: Cerita dari USA: Pendidikan Memperbanyak Kesempatan untuk Sukses<br />
Penulis: Najlah Naqiyah (Mahasiswi S3 Bimbingan &amp; Konseling, Universitas Malang. &#8212; Peserta CLP (Community Leadership Program) di Chicago, utusan dari pondok pesantren Syekh Abdul Qodir al-jailani Kraksaan Probolinggo)</p>
<blockquote><p>
Ada tiga sekolah swasta di Chicago yang terkenal. Ketiga sekolah tersebut adalah sekolah Latin, sekolah Cristo Rey dan sekolah Universal. Ketiga sekolah ini memiliki ciri khusus yang berbeda antara satu dengan yang lain. Sekolah swasta di Amerika dituntut kualitasnya lebih baik dari sekolah umum. Karena sekolah swasta memungut biaya dari siswanya, sedangkan sekolah umum dibiayai oleh negara bagian. Alasan sederhana itulah yang menyebabkan sekolah swasta terus berusaha membuat sekolah berkualitas dengan lebih baik. Lalu apa di balik sekolah swasta tersebut?
</p></blockquote>
<p>&#8230;</p>
<blockquote><p>
Apakah pendidikan berkualitas menjamin adanya hidup yang sukses di masa depan? belum tentu, ukuran sukses seseorang sangat subjektif, ukuran tersebut berbagai maacam, misalnya, ukuran menjadi manusia yang bisa berfungsi secara penuh (the best person) sebagai ukuran sukses seseorang, tentu akan berbeda dengan ukuran sukses yang dihitung dari kekayaan. Apa sesungguhnya yang dicari oleh manusia adalah adanya kesempatan (opportunity). Pendidikan memperbanyak kesempatan untuk &#8220;sukses&#8221;.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/06/21/cerita-dari-usa-pendidikan-memperbanyak-kesempatan-untuk-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Rakyat: Sekolah Swadaya Berkualitas</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/04/27/sekolah-rakyat-sekolah-swadaya-berkualitas/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/04/27/sekolah-rakyat-sekolah-swadaya-berkualitas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Apr 2006 12:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/04/27/sekolah-rakyat-sekolah-swadaya-berkualitas/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: harry.sufehmi.com, 26 April 2006
Judul: Sekolah Swadaya &#8211; diskusi dengan penyelenggara sekolah gratis
Penulis: Harry Sufehmi
Keypoints:
Ijazah: Sama dengan seperti yang bersekolah biasa, dan diakui oleh Diknas.
Raport: Sama dengan seperti yang bersekolah biasa, dan diakui oleh Diknas.
Lokasi: Bisa di mana saja, tidak perlu mengeluarkan biaya. Ada yang di mesjid, teras rumah, aula pertemuan, dst.
Materi pelajaran: Diberikan gratis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Publikasi: harry.sufehmi.com, 26 April 2006<br />
Judul: <a href="http://harry.sufehmi.com/archives/2006-04-26-1139/">Sekolah Swadaya &#8211; diskusi dengan penyelenggara sekolah gratis</a><br />
Penulis: Harry Sufehmi</p>
<blockquote><p><strong>Keypoints:</strong></p>
<p><strong>Ijazah:</strong> Sama dengan seperti yang bersekolah biasa, dan diakui oleh Diknas.<br />
<strong>Raport:</strong> Sama dengan seperti yang bersekolah biasa, dan diakui oleh Diknas.<br />
<strong>Lokasi:</strong> Bisa di mana saja, tidak perlu mengeluarkan biaya. Ada yang di mesjid, teras rumah, aula pertemuan, dst.<br />
<strong>Materi pelajaran:</strong> Diberikan gratis oleh Diknas &amp; Sekolah Rakyat. Pengajar cukup bisa berkonsentrasi mengajar.<br />
<strong>Pengajar:</strong> Relawan yang tidak dibayar. Mungkin bisa diganti dengan para ibu-ibu dari anak-anak tersebut sendiri, berganti-gantian sehingga tidak merepotkan.<br />
<strong>Seragam:</strong> Tentu saja jadi bebas dari seragam <img src='http://id.edublogs.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
<strong>Waktu belajar:</strong> Bebas, sesuai kesepakatan antara pengajar dengan anak didik.<br />
<strong>Ringkasan cara pendirian:</strong> Cari lokasi, cari pengajar, kontak <a href="http://www.sekolahrakyat.org/">Yayasan Sekolah Rakyat</a> (untuk dukungan teknis dan materi pelajaran), cari anak didik (minimal 15 orang), cari SMP negeri yang akan menjadi induk &#8211; mulai berjalan.<br />
<strong>Tingkat pendidikan:</strong> Sepertinya pada saat ini baru ada dukungan untuk SMP terbuka. (belum ada untuk SD/SMU ?)
</p></blockquote>
<p>Taut Utama: <a href="http://www.sekolahrakyat.org/">Yayasan Sekolah Rakyat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/04/27/sekolah-rakyat-sekolah-swadaya-berkualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecerdasan Sosial, Tantangan Baru Dunia Pendidikan</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/03/20/kecerdasan-sosial-tantangan-baru-dunia-pendidikan/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/03/20/kecerdasan-sosial-tantangan-baru-dunia-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Mar 2006 05:34:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/03/20/kecerdasan-sosial-tantangan-baru-dunia-pendidikan/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: Kompas, 18 Maret 2006
Judul: Tantangan Baru Dunia Pendidikan
Penulis: Sumardi. (Trainer SDM, Dosen Universitas HAMKA Jakarta).
Apabila dunia pendidikan bisa menjawab tantangan pengembangan kompetensi sosial ini secara cepat dan tepat, mudah- mudahan 10 tahun mendatang kita lebih banyak memiliki insan yang lebih demokratis, lebih toleran, dan memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar.

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Publikasi:</strong> Kompas, 18 Maret 2006<br />
<strong>Judul:</strong> <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/18/humaniora/2519398.htm">Tantangan Baru Dunia Pendidikan</a><br />
<strong>Penulis:</strong> Sumardi. (Trainer SDM, Dosen Universitas HAMKA Jakarta).</p>
<blockquote><p>Apabila dunia pendidikan bisa menjawab tantangan pengembangan kompetensi sosial ini secara cepat dan tepat, mudah- mudahan 10 tahun mendatang kita lebih banyak memiliki insan yang lebih demokratis, lebih toleran, dan memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/03/20/kecerdasan-sosial-tantangan-baru-dunia-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BSNP Serahkan Standar Kompetensi dan Isi</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/03/14/bsnp-serahkan-standar-kompetensi-dan-isi/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/03/14/bsnp-serahkan-standar-kompetensi-dan-isi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Mar 2006 12:24:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/03/14/bsnp-serahkan-standar-kompetensi-dan-isi/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: Pikiran Rakyat, 14 Maret 2006
Judul: BSNP Serahkan Standar Kompetensi dan Isi
Penulis: -
&#8230;sekarang ini kurikulum dibuat oleh satuan pendidikan, yaitu para guru dan komite sekolah. Mereka yang harus membuat kurikulum berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Bambang mengharapkan, Maret ini sudah menjadi peraturan menteri (Permendiknas).
Dikatakannya, masing-masing sekolah bisa mengakomodasi kepentingan daerahnya. &#8220;Bisa dimasukkan ke dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Publikasi:</strong> Pikiran Rakyat, 14 Maret 2006<br />
<strong>Judul:</strong> <a href="http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2006/032006/14/0702.htm">BSNP Serahkan Standar Kompetensi dan Isi</a><br />
<strong>Penulis:</strong> -</p>
<blockquote><p>&#8230;sekarang ini kurikulum dibuat oleh satuan pendidikan, yaitu para guru dan komite sekolah. Mereka yang harus membuat kurikulum berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Bambang mengharapkan, Maret ini sudah menjadi peraturan menteri (Permendiknas).</p>
<p>Dikatakannya, masing-masing sekolah bisa mengakomodasi kepentingan daerahnya. &#8220;Bisa dimasukkan ke dalam kurikulum yang berlaku, di luar muatan lokal,” katanya. Hal ini merupakan kesempatan bagi sekolah untuk bisa memberi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan daerah.</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/03/14/bsnp-serahkan-standar-kompetensi-dan-isi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurikulum 2006 Pangkas 100-200 Jam Pelajaran</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/03/08/kurikulum-2006-pangkas-100-200-jam-pelajaran/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/03/08/kurikulum-2006-pangkas-100-200-jam-pelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Mar 2006 14:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/03/08/kurikulum-2006-pangkas-100-200-jam-pelajaran/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: Pikiran Rakyat, 8 Mare 2006
Judul: Kurikulum 2006 Pangkas 100-200 Jam Pelajaran
Penulis: -
Fasli mengatakan, kurikulum baru tetap memberi tekanan pada pengembangan kompetensi siswa. ”Kurikulum ini sebagai penegas KBK,” ujar Fasli. Menurut Fasli, kurikulum 1994 tidak menekankan pengembangan kompetensi siswa, tapi lebih pada apa yang harus dilakukan guru, sehingga kompetensi siswa tidak dapat tergali.
Kurikulum 2006 tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Publikasi:</strong> Pikiran Rakyat, 8 Mare 2006<br />
<strong>Judul:</strong> Kurikulum 2006 Pangkas 100-200 Jam Pelajaran<br />
<strong>Penulis:</strong> -</p>
<blockquote><p>Fasli mengatakan, kurikulum baru tetap memberi tekanan pada pengembangan kompetensi siswa. ”Kurikulum ini sebagai penegas KBK,” ujar Fasli. Menurut Fasli, kurikulum 1994 tidak menekankan pengembangan kompetensi siswa, tapi lebih pada apa yang harus dilakukan guru, sehingga kompetensi siswa tidak dapat tergali.</p>
<p>Kurikulum 2006 tidak akan melalui uji publik maupun uji coba, karena kurikulum ini telah diuji coba melalui KBK yang diterapkan ke beberapa sekolah yang menjadi pilot project. ”Sebenarnya kurikulum 2004, kan, tidak resmi, hanya uji coba yang diterapkan di sekira 3.000 sekolah se-Indonesia,” ujarnya.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/03/08/kurikulum-2006-pangkas-100-200-jam-pelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengangankan Masa Depan LPTK</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/02/20/mengangankan-masa-depan-lptk/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/02/20/mengangankan-masa-depan-lptk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2006 06:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/02/20/mengangankan-masa-depan-lptk/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: Kompas, 20 Februari 2006
Judul: Mengangankan Masa Depan LPTK
Penulis: Irsyad Ridho. (Mengajar di Universitas Negeri Jakarta, Penggiat Kelompok Kajian Studi Kultural)
&#8230;guru semacam ini membutuhkan lebih dari sekadar functional literacy atau cultural literacy, tetapi critical literacy, yakni suatu pedagogi yang berupaya membongkar ideologi dominan di dalam teks dan praktik pengetahuan.
Lantas, di manakah kita dapat menemukan guru [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Publikasi:</strong> Kompas, 20 Februari 2006<br />
<strong>Judul:</strong> <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/20/humaniora/2436135.htm">Mengangankan Masa Depan LPTK</a><br />
<strong>Penulis:</strong> Irsyad Ridho. (Mengajar di Universitas Negeri Jakarta, Penggiat Kelompok Kajian Studi Kultural)</p>
<blockquote><p>&#8230;guru semacam ini membutuhkan lebih dari sekadar functional literacy atau cultural literacy, tetapi critical literacy, yakni suatu pedagogi yang berupaya membongkar ideologi dominan di dalam teks dan praktik pengetahuan.</p>
<p>Lantas, di manakah kita dapat menemukan guru semacam itu? Seharusnya di lembaga pendidikan guru atau LPTK.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/02/20/mengangankan-masa-depan-lptk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Jam Sehari, 16 Buku, dan Dunia yang Musnah</title>
		<link>http://id.edublogs.org/2006/02/09/empat-jam-sehari-16-buku-dan-dunia-yang-musnah/</link>
		<comments>http://id.edublogs.org/2006/02/09/empat-jam-sehari-16-buku-dan-dunia-yang-musnah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2006 12:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://id.edublogs.org/2006/02/09/empat-jam-sehari-16-buku-dan-dunia-yang-musnah/</guid>
		<description><![CDATA[Publikasi: Kompas, 9 Februari 2006
Judul: Empat Jam Sehari, 16 Buku, dan Dunia yang Musnah
Penulis: Erwin Edhi Prasetya dan Agnes Rita Sulistyawaty
Prof Dr Bambang Suhendro, Ketua Tim Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), pada seminar di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Desember 2005, mengakui, kurikulum sekolah dasar dan menengah paling berat sedunia, karenanya amat memberatkan siswa dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Publikasi: Kompas, 9 Februari 2006<br />
Judul: <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/09/humaniora/2422890.htm">Empat Jam Sehari, 16 Buku, dan Dunia yang Musnah</a><br />
Penulis: Erwin Edhi Prasetya dan Agnes Rita Sulistyawaty</p>
<blockquote><p>Prof Dr Bambang Suhendro, Ketua Tim Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), pada seminar di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Desember 2005, mengakui, kurikulum sekolah dasar dan menengah paling berat sedunia, karenanya amat memberatkan siswa dan harus dikurangi.</p>
<p>Dalam setahun, katanya, beban jam pelajaran anak SD hingga SMA di Indonesia ternyata lebih dari 1.000 jam per tahun. Angka ini terlama di dunia. Padahal, jumlah jam sekolah di negara-negara Asia-Pasifik (yang bukan termasuk negara maju) hanya 900-960 jam per tahun.</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://id.edublogs.org/2006/02/09/empat-jam-sehari-16-buku-dan-dunia-yang-musnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
