Publikasi: Kompas, 18 Maret 2006
Judul: Tantangan Baru Dunia Pendidikan
Penulis: Sumardi. (Trainer SDM, Dosen Universitas HAMKA Jakarta).
Apabila dunia pendidikan bisa menjawab tantangan pengembangan kompetensi sosial ini secara cepat dan tepat, mudah- mudahan 10 tahun mendatang kita lebih banyak memiliki insan yang lebih demokratis, lebih toleran, dan memiliki tanggung jawab sosial yang lebih besar.
Publikasi: Pikiran Rakyat, 14 Maret 2006
Judul: BSNP Serahkan Standar Kompetensi dan Isi
Penulis: -
…sekarang ini kurikulum dibuat oleh satuan pendidikan, yaitu para guru dan komite sekolah. Mereka yang harus membuat kurikulum berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Bambang mengharapkan, Maret ini sudah menjadi peraturan menteri (Permendiknas).
Dikatakannya, masing-masing sekolah bisa mengakomodasi kepentingan daerahnya. “Bisa dimasukkan ke dalam kurikulum yang berlaku, di luar muatan lokal,” katanya. Hal ini merupakan kesempatan bagi sekolah untuk bisa memberi pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Publikasi: Pikiran Rakyat, 8 Mare 2006
Judul: Kurikulum 2006 Pangkas 100-200 Jam Pelajaran
Penulis: -
Fasli mengatakan, kurikulum baru tetap memberi tekanan pada pengembangan kompetensi siswa. ”Kurikulum ini sebagai penegas KBK,” ujar Fasli. Menurut Fasli, kurikulum 1994 tidak menekankan pengembangan kompetensi siswa, tapi lebih pada apa yang harus dilakukan guru, sehingga kompetensi siswa tidak dapat tergali.
Kurikulum 2006 tidak akan melalui uji publik maupun uji coba, karena kurikulum ini telah diuji coba melalui KBK yang diterapkan ke beberapa sekolah yang menjadi pilot project. ”Sebenarnya kurikulum 2004, kan, tidak resmi, hanya uji coba yang diterapkan di sekira 3.000 sekolah se-Indonesia,” ujarnya.
Oleh: Muhammad Yaumi. (Mahasiswa program Master/S2 di University of Northern Iowa.)
Pendahuluan
Dalam sejarah penyelenggaraan pendidikan di negara kita, tercatat sebanyak lima kali perubahan kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang berbarengan dengan perubahan strategi belajar mengajar. Kurikulum pertama dirancang pada tahun 1968 yang menekankan pada pentingnya pembinaan moral, budi pekerti, agama, kecerdasan dan keterampilan, serta fisik yang kuat dan sehat (Sularto, 2005). Kurikulum 1968 dianggap belum sempurna sekalipun penyusunannya berdasarkan hasil kajian mendalam terhadap Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Oleh karena itu, pemerintah, para ahli, dan praktisi pendidikan melakukan inovasi dan uji coba terhadap model desain pembelajaran yang pada akhirnya terakumulasi dalam perwujudan kurikulum 1975. Kurikulum 1975 pun dipandang belum mampu mengakomodasi upaya menciptakan manusia Indonesia seutuhnya yang berindikasi pada pengembangan tiga aspek kognisi, afektif, dan psikomotor. Maka dirancanglah kurikulum 1984 sebagai penyempurnaan kurikulum sebelumnya yang menekankan pada Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
[Read more →]
Publikasi: Kompas, 20 Februari 2006
Judul: Mengangankan Masa Depan LPTK
Penulis: Irsyad Ridho. (Mengajar di Universitas Negeri Jakarta, Penggiat Kelompok Kajian Studi Kultural)
…guru semacam ini membutuhkan lebih dari sekadar functional literacy atau cultural literacy, tetapi critical literacy, yakni suatu pedagogi yang berupaya membongkar ideologi dominan di dalam teks dan praktik pengetahuan.
Lantas, di manakah kita dapat menemukan guru semacam itu? Seharusnya di lembaga pendidikan guru atau LPTK.