Wajah Pendidikan Indonesia

Menanti Senyuman di Raut Kusam

Empat Jam Sehari, 16 Buku, dan Dunia yang Musnah

February 9th, 2006 by fp in Rujukan · 1 Comment

Publikasi: Kompas, 9 Februari 2006
Judul: Empat Jam Sehari, 16 Buku, dan Dunia yang Musnah
Penulis: Erwin Edhi Prasetya dan Agnes Rita Sulistyawaty

Prof Dr Bambang Suhendro, Ketua Tim Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), pada seminar di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Desember 2005, mengakui, kurikulum sekolah dasar dan menengah paling berat sedunia, karenanya amat memberatkan siswa dan harus dikurangi.

Dalam setahun, katanya, beban jam pelajaran anak SD hingga SMA di Indonesia ternyata lebih dari 1.000 jam per tahun. Angka ini terlama di dunia. Padahal, jumlah jam sekolah di negara-negara Asia-Pasifik (yang bukan termasuk negara maju) hanya 900-960 jam per tahun.

→ 1 Comment

Pendidikan dan Harapan Negara

February 8th, 2006 by fp in Tamu · 1 Comment

Pendidikan dan Harapan Negara. Sebuah Pergulatan Manifesto Pendidikan. (Kritik Terhadap Sistem Pendidikan — Persiapan Materi Seminar Pendidikan – PGRI)

Oleh: Irwan Ali (Guru SD di Makassar)

“Negara adalah sesuatu yang tidak bernyawa. Hanya akan bernyawa ketika individu-individu yang terpayungi didalamnya memberikan warna kehidupan. Hitam putihnya sebuah negara tergantung pada warna apa yang ditorehkan komunitasnya”

Cita-Cita Negara

Esensi sebuah negara pada dasarnya adalah sebuah konvensi sosial. Tak jauh beda dengan organisasi kemasyarakatan, dimana individu-individu yang dulunya tercerai-berai kemudian menyatukan visi untuk mencapai tujuan bersama. Berangkat dari kepentingan ini maka dibentuklah sebuah lembaga yang bernama “Negara” untuk menjadi alat individu-individu mencapai kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan.

Kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan, adalah isu sentral yang secara kodrati telah melekat dalam bingkai keinginan manusia. Para pendiri negara yakin, bahwa dengan bersatunya individu dalam naungan institusi, maka kepentingan tersebut di atas akan lebih mudah diwujudkan. Meskipun di tengah keyakinannya mereka sadar bahwa untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan itu masih membutuhkan kajian-kajian intensif dengan pisau analisis yang kritis. Sebab pencapaian cita-cita negara bisa dikatakan berada dalam kerangka evolutif.

Pemikiran tentang “Evolutif” kemudian melahirkan poin penting, bahwa perjalanan kedepan harus dikawal oleh nilai-nilai ideal agar tidak keluar dari koridor perencanaan semula. Pengawalan yang dimaksud adalah sebuah landasan normatif yang kelak akan dijadikan acuan dalam menentukan gerak langkah atau sebagai patron pergerakan. Landasan normatif ini kemudian dikenal dengan istilah ”konstitusi“.

Di Indonesia misalnya, konstitusinya adalah UUD 1945. Aturan ini berada diatas puncak menara hierarki dari segala aturan yang berlaku. Maksudnya, segala Undang-undang yang lahir kemudian tidak boleh bertentangan dengan isi Undang-Undang Dasar 1945.

Lahirnya konstitusi barulah merupakan langkah awal dalam menapak pencapaian cita-cita kolektif individu dalam negara. Pada fase ini adalah fase dimulainya perjuangan mempertahankan idealisme kebangsaaan.

[Read more →]

→ 1 Comment

Depdiknas Keluarkan 6 Kebijakan UN 2006

February 8th, 2006 by fp in Rujukan · No Comments

Publikasi: Pikiran Rakyat, 8 Februari 2006
Judul: Depdiknas Keluarkan 6 Kebijakan UN 2006
Penulis: -

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), telah mengeluarkan enam kebijakan baru terkait pelaksanaan ujian nasional (UN) untuk tahun 2006.

Kepala Subdinas Pendidikan Menengah, Dinas Pendidikan Jabar, H. Syarif Hidayat, usai ceramah di lingkungan Dinas Pendidikan Ciamis kepada “PR”, Selasa (7/2), mengatakan, kebijakan tersebut dikeluarkan terutama untuk menghindari terjadinya kebocoran.

Comments Off

Kelayakan Guru Mengajar

February 6th, 2006 by fp in Rujukan · No Comments

Publikasi: Pikiran Rakyat, 6 Februari 2006
Judul: Kelayakan Guru Mengajar
Penulis: Indra Gunawan, S.Pd., M.Si. (Guru SMAN 1 Karangpawitan Garut.)

Mungkin sebagian kalangan beranggapan setiap orang bisa melakukan pekerjaan guru, atau menjadi guru tidak memerlukan kecakapan khusus. Untuk tampil di depan kelas, menerangkan sebuah pokok bahasan atau subtema tertentu, bisa dilakukan cukup dengan membaca buku sumber lalu diterangkan. Setelah itu, siswa diberi soal tes, diperiksa, dicatat dalam daftar nilai, lalu hasilnya dibagikan, selesai.

Terkait:

Comments Off

Penjurusan di SMA

January 30th, 2006 by fp in Rujukan · 1 Comment

Publikasi: Pikiran Rakyat, 30 Juni 2006
Judul: Penjurusan di SMA
Penulis: Drs. Sukmana. (Guru Pembimbing dan Pembina Mading SMA Negeri 10 Bandung.)

Dalam Kurikulum 2004, penjurusan di SMA dimulai akhir semester 2 kelas X. Selama di kelas X, siswa hanya menerima program pengajaran umum. Sedangkan di kelas XI dan XII, selain menerima program umum, mendapatkan program pengajaran khusus sebagai pilihan: IPA (ilmu pengetahuan alam), IPS (ilmu pengetahuan sosial) atau bahasa.

Tujuan penjurusan, antara lain, mengelompokkan siswa sesuai kecakapan, kemampuan, bakat, dan minat yang relatif sama. Membantu mempersiapkan siswa melanjutkan studi dan memilih dunia kerja. Membantu memperkokoh keberhasilan dan kecocokan atas prestasi yang akan dicapai di waktu mendatang (kelanjutan studi dan dunia kerja).

→ 1 Comment